1. Menganggap Semua Penghasilan Sama
Gaji pokok, tunjangan tetap, tunjangan tidak tetap, bonus, THR, dan komisi dapat memengaruhi perhitungan. Kesalahan paling umum adalah hanya memasukkan gaji pokok lalu mengabaikan komponen lain yang sebenarnya masuk penghasilan bruto.
2. Salah Memahami Biaya Jabatan
Biaya jabatan bukan potongan bebas tanpa batas. Umumnya biaya jabatan dihitung 5% dari penghasilan bruto dengan batas maksimum tertentu. Jika batas ini tidak diperhatikan, penghasilan neto bisa terlalu kecil dan pajak menjadi tidak realistis.
3. Memilih PTKP yang Tidak Sesuai
Status PTKP memengaruhi penghasilan kena pajak. Perubahan status menikah, jumlah tanggungan, atau kondisi keluarga perlu diperbarui agar perhitungan lebih tepat. Kesalahan memilih PTKP dapat membuat pajak lebih besar atau lebih kecil dari semestinya.
4. Lupa Membulatkan PKP
Dalam praktik perpajakan, PKP memiliki aturan pembulatan tertentu. Kalkulator membantu memberi gambaran, tetapi hasil payroll perusahaan bisa berbeda karena pembulatan, metode tahunan, dan kebijakan administrasi.
5. Mengabaikan Penghasilan Tidak Teratur
Bonus tahunan, THR, insentif, dan komisi dapat membuat pajak pada bulan tertentu lebih tinggi. Karena itu, pajak bulanan normal tidak selalu sama dengan pajak pada bulan saat ada penghasilan tambahan.
Kesimpulan
Perhitungan PPh 21 paling aman dibaca sebagai rangkaian langkah, bukan satu angka akhir. Pahami dulu sumber penghasilan, pengurang, PTKP, dan tarif progresif sebelum membandingkan hasil dengan slip gaji atau bukti potong.